Catatan wawancara dengan I Gede Putu Dharma Yusa (4SE1) sineas Eagle Documentary Series dalam Film Dokumenter “Karya Segara” dan Finalis Eagle Award 2012
Senja tenggelam memeluk ufuk, saat gurat jingga dan rona lembayung merah
melukis langit Jakarta. Dalam hiruk-pikuk kesibukan kota, Yusa membagi
kisahnya. Tentang mimpi yang terurai menjadi pernik jejak kehidupan, tentang
berjuang mengkonversi imajinasi menjadi langkah nyata.
Bagi seorang penulis,
menjadi seorang sineas yang mampu merubah luapan ide tertulis menjadi kerangka
visual adalah bentuk progresivitas pembelajaran. Untuk seorang Yusa Dharma,
fase ini dipertemukan oleh kegemarannya menulis. Entah berapa judul riset yang
telah Ia rampungkan sejak di sekolah menengah. Menjadi peneliti LPIR, juara
pertama lomba kepenulisan karya ilmiah ITB Tahun 2008, mengikuti kontes
inovator muda LIPI dan mendapatkan medali perak Innovator Award di tahun yang
sama, itulah dunianya. Ini yang membawanya berkenalan dengan sinematografi.
Produktivitas risetnya
sempat terhenti ketika dihadapkan pada aktivitas masa kuliah yang lebih padat.
Namun, bukan Yusa bila Ia meyerah terbentuk menjadi kotak. Ia adalah pemain
utama dalam panggung kehidupannya, Think
out of the box. Ia telah berhasil keluar dari kotak itu saat berhasil
menjuarai perlombaan Blog bersamaan dengan padatnya aktivitas kampus. Maka ini
adalah langkah melanjutakan apa yang telah ia mulai. Ia tidak rela mimpinya
terhenti disini, risetnya tidak akan terhenti begitu saja.
Yusa seorang pemimpi
ulung. Saat masih di sekolah dasar ia pernah bermimpi mengenalkan Bali dan elok
terumbu karang di tanahnya. Yusa melihat kesempatan melanjutkan risetnya ada
pada event Eagle Award. Memulai
langkah selanjutnya dengan memilih Eagle Award sebagai jalan perangkai mimpi, Ia
sangat sadar akan menembus prosedur birokrasi yang cukup rumit. Akhir Maret
2012 Ia menuangkan ide “Karya Segara” nya, menjadikannya satu dari sekian ratus
konsep ide lain yang menjadi pendaftar Eagle Award 2012, Minggu ke-3 April ia
dapati idenya menjadi satu dari 50 finalis. Satu pekan setelahnya, ketika
tersibukkan oleh aktivitas OPTK idenya berhasil menembus 22 Besar Finalis Eagle
Award 2012, saat ini ia masih ada diurutan belasan. Kini langkahnya akan
menanjak jauh lebih terjal.
Proses seleksi menuju 10 besar dilaksanakan melalui
presentasi ide kepada dewan juri melalui Teleconference,
pada tahap ini Yusa masuk 10 besar finalis sebagai urutan terbaik pertama. Ia
mendapat kesempatan mengikuti beasiswa karantina selama satu pekan. Kini ia
dibenturkan prosedur izin yang melelahkan. Beruntung kedekatannya dengan
Pembantu Ketua I STIS menghantarkannya pada kesempatan melabuhkan ilmu. Atas
saran menyurati langsung Ketua STIS kala itu, Bapak Adi Lumaksono, Ia
berkesempatan menyampaikan gagasan idenya dan mendapatkan izin.
Di karantina ini ia belajar segala seluk-beluk
sinematografi. Bagaimana merubah konsep riset tertulis menjadi sebuah
visualisasi terdeskripsi. Dari 10 Finalis akhir hanya 5 ide yang akan diangkat
menjadi Film. 5 hari belajar dan mengamati, 2 hari penjurian dan pertarungan
ide. Mengejar kemungkinan idenya akan difilmkan. Penjurian selesai 12 Juni 2012
idenya difavoritkan, namun kesempatan belum berpihak. 5 ide terpilih bukan
idenya yang akan menjadi Film dan dinominasikan di Eagle Award 2012.
Disini letak pembeda. Yusa benar pemimpi ulung, sejauh
ini ia telah melangkah urung ia surutkan langkah. Secara formal telah terpisah
dengan komunitas kompetisi, Yusa senantiasa menjaga komunikasi intens. Pada
saat pendalaman materi lanjutan sinematografi dilaksanakan, nekat ia datang
hendak ikut belajar. Beruntung lokasi ada di Jakrta pusat, masih dalam
jangkauan akses. Komunikasi yang senantiasa terjaga membantunya tetap menjadi
“peserta”. “Mungkin melihat kesungguhan saya,” kata Yusa.
Tuhan memang selalu mengerti. Kesungguhan Yusa
menghantarkan pada panggilan pihak Metro TV bahwa akan ada lanjutan kegiatan,
Eagle Documentary Series. “ini tahun pertama setelah 8 tahun Eagle Award ada,
dan ini tahun saya,” Yusa menyampaikan.
Seri ini memberi kesempatan bagi seluruh ide dari 8 tahun Eagle Award digelar
untuk dapat difilmkan menjadi 13 seri film terpilih. Lebih dari beruntung untuk
dapat menjadi satu dari 13 seri ini, dan Yusa mendapat kesempatan itu.
Persiapan dilaksanakan dalam tempo yang sangat cepat.
Tanggal 4 Maret 2013 produser acara memberi kepastian konsep cerita ini akan
segera dieksekusi, 6 Maret 2013 berangkat menuju lokasi di Bali mengejar momen
reklamasi. Cerita reklamasi ini adalah kisah upacara adat penyatuan tanah adata
dengan tanah reklamasi di sekeliling Pulau Sarangan yang luas tanah barunya 3
kali lipat luas pulau itu sendiri. “Entah berapa banyak terumbu karang dan
biota laut lain yang tertimbun,” sesal Yusa. 4 hari menyelesaikan pengambilan
gambar dan keperluan lainnya sebelum Hari Raya Nyepi, tanggal 18-27 Maret 2013 proses
editing Film, 29 Maret 2013 sudah naik tayang di Metro TV.
Kombinasi
dari kesigapan, dedikasi, dan kesungguhan. Keberanian menembus sistem yang
merepotkan mewujudkan puing impian. Berpikir dan bertindak diluar kotak, think outside the box. Tak terhitung
segala momen kenangan yang tergoreskan, semakin menguatkan bahwa mimpi tidak
akan pernah menjadi nyata bila kita tidak bangun dan mewujudkannya. (ewa)