Rabu, 03 April 2013

Menyulam Mimpi di Terumbu Karang

Catatan wawancara dengan I Gede Putu Dharma Yusa (4SE1) sineas Eagle Documentary Series dalam Film Dokumenter “Karya Segara” dan Finalis Eagle Award 2012

           Senja tenggelam memeluk ufuk, saat gurat jingga dan rona lembayung merah melukis langit Jakarta. Dalam hiruk-pikuk kesibukan kota, Yusa membagi kisahnya. Tentang mimpi yang terurai menjadi pernik jejak kehidupan, tentang berjuang mengkonversi imajinasi menjadi langkah nyata.
            Bagi seorang penulis, menjadi seorang sineas yang mampu merubah luapan ide tertulis menjadi kerangka visual adalah bentuk progresivitas pembelajaran. Untuk seorang Yusa Dharma, fase ini dipertemukan oleh kegemarannya menulis. Entah berapa judul riset yang telah Ia rampungkan sejak di sekolah menengah. Menjadi peneliti LPIR, juara pertama lomba kepenulisan karya ilmiah ITB Tahun 2008, mengikuti kontes inovator muda LIPI dan mendapatkan medali perak Innovator Award di tahun yang sama, itulah dunianya. Ini yang membawanya berkenalan dengan sinematografi.
            Produktivitas risetnya sempat terhenti ketika dihadapkan pada aktivitas masa kuliah yang lebih padat. Namun, bukan Yusa bila Ia meyerah terbentuk menjadi kotak. Ia adalah pemain utama dalam panggung kehidupannya, Think out of the box. Ia telah berhasil keluar dari kotak itu saat berhasil menjuarai perlombaan Blog bersamaan dengan padatnya aktivitas kampus. Maka ini adalah langkah melanjutakan apa yang telah ia mulai. Ia tidak rela mimpinya terhenti disini, risetnya tidak akan terhenti begitu saja.
            Yusa seorang pemimpi ulung. Saat masih di sekolah dasar ia pernah bermimpi mengenalkan Bali dan elok terumbu karang di tanahnya. Yusa melihat kesempatan melanjutkan risetnya ada pada event Eagle Award. Memulai langkah selanjutnya dengan memilih Eagle Award sebagai jalan perangkai mimpi, Ia sangat sadar akan menembus prosedur birokrasi yang cukup rumit. Akhir Maret 2012 Ia menuangkan ide “Karya Segara” nya, menjadikannya satu dari sekian ratus konsep ide lain yang menjadi pendaftar Eagle Award 2012, Minggu ke-3 April ia dapati idenya menjadi satu dari 50 finalis. Satu pekan setelahnya, ketika tersibukkan oleh aktivitas OPTK idenya berhasil menembus 22 Besar Finalis Eagle Award 2012, saat ini ia masih ada diurutan belasan. Kini langkahnya akan menanjak jauh lebih terjal.
Proses seleksi menuju 10 besar dilaksanakan melalui presentasi ide kepada dewan juri melalui Teleconference, pada tahap ini Yusa masuk 10 besar finalis sebagai urutan terbaik pertama. Ia mendapat kesempatan mengikuti beasiswa karantina selama satu pekan. Kini ia dibenturkan prosedur izin yang melelahkan. Beruntung kedekatannya dengan Pembantu Ketua I STIS menghantarkannya pada kesempatan melabuhkan ilmu. Atas saran menyurati langsung Ketua STIS kala itu, Bapak Adi Lumaksono, Ia berkesempatan menyampaikan gagasan idenya dan mendapatkan izin.
Di karantina ini ia belajar segala seluk-beluk sinematografi. Bagaimana merubah konsep riset tertulis menjadi sebuah visualisasi terdeskripsi. Dari 10 Finalis akhir hanya 5 ide yang akan diangkat menjadi Film. 5 hari belajar dan mengamati, 2 hari penjurian dan pertarungan ide. Mengejar kemungkinan idenya akan difilmkan. Penjurian selesai 12 Juni 2012 idenya difavoritkan, namun kesempatan belum berpihak. 5 ide terpilih bukan idenya yang akan menjadi Film dan dinominasikan di Eagle Award 2012.
Disini letak pembeda. Yusa benar pemimpi ulung, sejauh ini ia telah melangkah urung ia surutkan langkah. Secara formal telah terpisah dengan komunitas kompetisi, Yusa senantiasa menjaga komunikasi intens. Pada saat pendalaman materi lanjutan sinematografi dilaksanakan, nekat ia datang hendak ikut belajar. Beruntung lokasi ada di Jakrta pusat, masih dalam jangkauan akses. Komunikasi yang senantiasa terjaga membantunya tetap menjadi “peserta”. “Mungkin melihat kesungguhan saya,” kata Yusa.
Tuhan memang selalu mengerti. Kesungguhan Yusa menghantarkan pada panggilan pihak Metro TV bahwa akan ada lanjutan kegiatan, Eagle Documentary Series. “ini tahun pertama setelah 8 tahun Eagle Award ada, dan ini tahun saya,”  Yusa menyampaikan. Seri ini memberi kesempatan bagi seluruh ide dari 8 tahun Eagle Award digelar untuk dapat difilmkan menjadi 13 seri film terpilih. Lebih dari beruntung untuk dapat menjadi satu dari 13 seri ini, dan Yusa mendapat kesempatan itu.
Persiapan dilaksanakan dalam tempo yang sangat cepat. Tanggal 4 Maret 2013 produser acara memberi kepastian konsep cerita ini akan segera dieksekusi, 6 Maret 2013 berangkat menuju lokasi di Bali mengejar momen reklamasi. Cerita reklamasi ini adalah kisah upacara adat penyatuan tanah adata dengan tanah reklamasi di sekeliling Pulau Sarangan yang luas tanah barunya 3 kali lipat luas pulau itu sendiri. “Entah berapa banyak terumbu karang dan biota laut lain yang tertimbun,” sesal Yusa. 4 hari menyelesaikan pengambilan gambar dan keperluan lainnya sebelum Hari Raya Nyepi, tanggal 18-27 Maret 2013 proses editing Film, 29 Maret 2013 sudah naik tayang di Metro TV.
Kombinasi dari kesigapan, dedikasi, dan kesungguhan. Keberanian menembus sistem yang merepotkan mewujudkan puing impian. Berpikir dan bertindak diluar kotak, think outside the box. Tak terhitung segala momen kenangan yang tergoreskan, semakin menguatkan bahwa mimpi tidak akan pernah menjadi nyata bila kita tidak bangun dan mewujudkannya. (ewa) 

Kamis, 03 Januari 2013

Kawan, Kini Aku Hendak Bertanya, Maukah Kau Menjawabnya?

Take from Google Image
Memaknai tiap gurat kehidupan memang melelahkan. Lihat bocah kecil berlari riang dalam keramaian jalan. Tengok betapa piawai tangannya bergerak dalam barisan fret teratur. Lincah ia memetik dawai gitar, menyanyikan elegi suram malam ini. Meski sengau terdengar parau. Tak apalah, toh baguspun tiada yang peduli. Biarlah, selama perut kosong dapat terganjal, kardus usang serasa hotel berbintang. Mata sayup redup, hanya kepul asap dan rentetan mobil beriring yang ia saksikan. Ketika anak seusianya berceloteh riang dengan ayah dan bunda tersayang, bertanya tentang apa menu makan malam. Bercerita tentang pelajaran dari ibu guru hari ini. Berceloteh tentang impian dan masa depan. Pun, kata itu tak pernah nampak dalam hidupnya, “Mimpi, masa depan”.

Lain cerita, lain asa dengan satu persamaan masa. Di waktu yang sama di tempat yang lain, seorang lelaki bersuara lantang. Bergelora penuh semangat. Matanya menyalak, suaranya tegas menghardik. Mengerahkan semua kemampuan verbal yang ia miliki. Malam ini sidang terakhir pembahasan kenaikan tunjangan dan gaji anggota dewan, rupanya segala kemewahannya tampak kurang bergelimpang. Anggota dewan yang terhormat. Sebagian dengan sabar menungguinya menurunkan pengeras suara yang dia genggam. Sebagian menikmati busa empuk di kursi kehormatan dan jatuh terlelap di meja elegan berpelitur coklat. Malam ini diskusi berjalan alot. Tidak sedikit yang merasa cukup mempertahankan nilai puluhan juta tunjuangan yang diterima. Lebih banyak yang menghardik tunjangan yang terlampau kecil atas usaha mereka untuk “rakyat”. 

Namun, betapa melelahkannya mereka bukan? Tak adakah penat menggunung dalam benak, atau mungkin sekadar letih berkata pada lelah dalam entah? 
"Hai kau yang bernyanyi dengan riang, tak bisakah berhenti sejenak? Mari menikmati secangkir teh dengan alunan musik klasik merdu," Kataku. 
"Maaf, waktuku adalah penghidupanku. Nyanyianku adalah janjiku untuk perut kosongku." Katanya. 
"Hei kau, Pria berdasi dengan sepatu hitam legam tak tersentuh debu, marilah bersantai sejenak. Lupakan tender ambisius dan kertas perjalanan dinasmu sebentar. Lupakan usungan partai dan aliran dana sekian pulu Miliarmu, duduklah bersama kami. Bukankah ini hari libur kita" Kataku.
"Maaf kawan, tiada libur bagi petugas pengabdi 'Rakyat' seperti kami. Proyek ini harus kami menangkan, sudah lama istriku berkeinginan menginap di Venesia dan belanja ke Paris. Anakku paling muda kini telah SMP dan aku berjanji membelikannya mobil baru, kasihan dia nanti di olokolok temannya," Katanya. 

Betapa mengesalkannya mereka. Hei.. bahkan ini hanya sejenak. Mari sebentar kita tersenyum dalam penat.
"Hei kau yang berdasi dengan sepatu hitam legam tak tersentuh debu, tak kenalkah engkau dengan anak riang itu? Mari bertegur sapa dalam lelah dan letih. Bukankah hidup ini hanya sementara?"

Kawan, kini aku hendak bertanya, maukah kau menjawabnya?
Ketika mata tertutup oleh selimut pekatnya malam, benarkah warna telah hilang dari pelupuk mata? Adakah suara telah sempurna tak terdengar oleh telinga? Kawan, Benarkah? walau ibu sang anak riang, menangis tertahan dalam senyapnya gelap, ia meratap. Adakah mata kita tidak mampu menangkap siluet ketidakmampuan, telinga kita tiada mampu mendengar jeritnya? Atau kita hanya berpura-pura tidak melihat dan tidak mendengar?

Kawan, kini aku hendak bertanya, maukah kau menjawabnya?
Kawan, adakah sekali-kali kita berpikir, bilakah mata itu akan terbuka kembali saat fajar merona di ufuk timur semesta? Ketika telah purna tugas kita di dunia, telah siapkah bekal kita untuk perjalanan selanjutnya? Adakah dunia telah mengenal kita sebagai seorang yang didamba adanya dan dirindu tiadanya, atau malah sebaliknya? Kawan, tak ada seorangpun yang mampu menjawabnya kecuali kita, ya... hanya kita, aku dan kamu.

Kawan, kini aku hendak bertanya, maukah kau menjawabnya?
Kawan, perjalanan ini hanya sejenak. Bersabarlah. Sedikit demi sedikit kita kumpulkan bekal untuk perjalanan kita selanjutnya, perjalanan yang lebih panjang, dan entah apakah akan lebih melelahkan. Maka istirahat di hari libur ini kawan, aku sangsi adanya. Dimanakah kita meletakkan hari libur itu? Perjalanan sejenak ini tidak mengenal libur. Saat sejenak kita beristirahat dari mengumpulkan bekal, disaat yang sama orang lain berlomba mendahului kita. Bukankah kita bisa tertinggal, kawan?