"Perjuanganku
lebih mudah karena melawan penjajah, perjuangan kalian akan lebih sulit karena
melawan bangsamu sendiri." (Soekarno-Proklamator)
Negeri itu
Bernama Indonesia
Sebait elegi nyanyian suram seorang bocah di tepi
jalan. Menderu-deram dalam bising kota pesakitan. Berjalan menembus kepul asap,
beriring dengan para pelintas jalan. Tak apalah sengau mereka dengar, toh
baguspun tak ada yang peduli. Biarlah, selama perut kosong dapat terganjal, kardus
usang serasa hotel berbintang. Mata sayup redup, hanya kepul asap dan rentetan
mobil beriring yang ia saksikan. Ketika anak seusianya berceloteh riang dengan
ayah dan bunda tersayang, bertanya tentang apa menu makan malam. Bercerita
tentang pelajaran dari ibu guru hari ini. Berceloteh tentang impian dan masa
depan. Pun, kata itu tak pernah nampak dalam hidupnya, “Mimpi, masa depan”.
Di waktu yang sama di tempat yang lain, seorang
lelaki bersuara lantang. Bergelora penuh semangat. Matanya menyalak, suaranya
tegas menghardik. Mengerahkan semua kemampuan verbal yang ia miliki. Malam ini
sidang terakhir pembahasan kenaikan tunjangan dan gaji anggota dewan, rupanya
segala kemewahannya tampak kurang bergelimpang. Anggota dewan yang terhormat.
Sebagian dengan sabar menungguinya menurunkan pengeras suara yang dia genggam.
Sebagian menikmati busa empuk di kursi kehormatan dan jatuh terlelap di meja
elegan berpelitur coklat. Malam ini diskusi berjalan alot. Tidak sedikit yang
merasa cukup mempertahankan nilai puluhan juta tunjuangan yang diterima. Lebih
banyak yang menghardik tunjangan yang terlampau kecil atas usaha mereka untuk
“rakyat”. Ya, inilah potret kecil kehidupan negeri ini. Negeri “indah” tempat
kuterlahir, menjadi bagian hidup dari tanah, Indonesia.
Adakah yang meragukan pesona tanah Indonesia?
Hamparan zamrud hijau nan elok di batas khatulistiwa. Tanah subur Indonesia
yang telah menumbuhkan 6 ribu jenis anggrek, biodiversitas anggrek terbesar di
dunia. Indonesia dengan spesies bambu, palem, rotan, meranti, kupu-kupu, dan
mamalia terbesar di dunia. Indonesia dengan 39.549.447 hektar hutan tropis
dengan keanekaragaman hayati dan plasmanutfah terlengkap di dunia.
Siapakah yang meragukan kekayaan alam Indonesia?
Produsen timah terbesar kedua dunia, peringkat 1 produksi cengkeh dan pala
dengan kualitas tinggi, peringkat 2 produksi karet alam dan minyak sawit
mentah. Indonesia produsen terbesar gas cair, memenuhi 20% konsumsi dunia.
Indonesia dengan cadangan minyak 9,7 juta barrel dan cadangan gas alam 146,7 triliun
kaki kubik. Indonesia dengan tambang tembaga terbesar ketiga di dunia.
Indonesia dengan bahan galian terbanyak di dunia. Begitu banyak nikmat Tuhan
tanam dalam tanah Indonesia.
Bangsa yang
Tertawan
Sebatas kontemplasi akan makna kebebasan dan
kemerdekaan. 66 tahun silam, Bapak pendiri negara ini dengan lantang
mengumandangkan kemerdekaan tanah ini. Dalam bayang bayonet dan moncong pistol
menyuarakan konstitusi Indonesia. Menyatakan kedaulatan bangsa Indonesia.
Setelah berabad-abad hidup tertawan dan terkungkung dalam jajahan.
Adakah tanah ini telah merdeka? Ya, ini tanah
merdeka. Adakah bangsa ini berdaulat? Ya, ini bangsa berdaulat. Adakah bangsa
ini hidup sebagai tawanan? Ya, bangsa ini masih tertawan. Bukan terkungkung
dalam kilat senjata dan kekerasan fisik. Bangsa ini tertawan oleh tekanan
psikis dan “keberhasilan” produk pendidikan. Tokoh berdasi dalam rentetan gelar
akademis yang duduk dalam singgasana para pengambil kebijakan. Apakah ini
produk pendidikan Indonesia? Tentu bukan, pendidikan itu mencerdasakan bukan
membodohi.
Bangsa ini tertawan oleh keserakahan. Oleh saudara
pengambil kebijakan negeri kaya nan elok menawan. Bangsa ini ditidurkan dalam
impian janji tentang masa depan. Mati suri atas segala kedigdayaan tanah
nusantara Indonesia. Dilematika krisis sosial terpuruk oleh regenerasi yang
lambat, kehilangan semangat dan komitmen membangun sumberdaya manusia yang
mandiri.
Kepak Sayap
Jiwa Pembaharu
Secara konstitusional bangsa ini telah merdeka.
Memang. Namun, sumber daya Indonesia tetap menjadi bulan-bulanan teknologi
bangsa lain. Perut-perut tanah pertiwi Indonesia dikeruk, digagahi pengetahuan
dan kemampuan sumber daya manusia bangsa lain. Apakah generasi muda ini belum
mengenal potensinya sendiri? Tidak juga, betapa banyak kecerdasan anak muda
bangsa ini diakui dunia. Dikalungi medali kebanggan dalam even bergengsi
Internasional.
Kuncup tunas bangsa pengemban estafet pembangunan
telah tumbuh. Namun sayang, tidak sepenuhnya tanah Indonesia menjadi media
tumbuh yang cocok bagi tunas ini. Satu-persatu kuncup-kuncup muda tumpuan
bangsa diangkut dan dikembangkan di negeri orang. Mekar dan berbuah di negeri
orang. Sudah banyak akademisi bangsa ini berkarya bukan di negeri mereka
sendiri. Mereka takut menjadi layu oleh birokrasi dan iklim politik di tanah
sendiri.
Ibarat sebuah mata rantai yang terjurai panjang,
posisis generasi muda dalam masyarakat menempati mata rantai yang paling
sentral. Berfungsi sebagai penerus cita-cita perjuangan bangsa yang telah
diletakkan oleh generasi sebelumnya dan berkemampuan untuk mengisi dan membina
kemerdekaan . Sosok generasi muda merupakan suatu entitas potensial. Sejarah
mencatat, peran sentral generasi muda Indonesia dari masa ke masa sebagi sebuah
sumber prakarsa dan perintis kebangkitan. Integrasi pemuda Indonesia dalam
Sumpah Pemuda tahun 1928 menjadi tonggak pergerakan idealisme bangsa merdeka.
Generasi muda Indonesia secara kultural selalu menjadi poros perubahan yang
selalu tanggap terhadap polemik bangsa Indonesia. Menjadi yang terdepan dalam
segala dimensi kehidupan.
Mengusung
Peta Konsep Masa Depan
Memang menyenangkan menjadi telur. Bersembunyi di
dalam cangkang, terselimut oleh kedamaian. Tak peduli akan apa yang terjadi
diluarnya, negaranya luluh lantak oleh bencana, acuh-tidak mau tahu. Mungkin
lebih menyenangkan menjadi ulat. Berjalan lambat penuh ketenangan. Tak peduli
bangsa lain melangkah sangat jauh dan kita tertinggal. Setidaknya apabila ada
lubang di depan, yang melaju lebih kencang akan terjebak lebih dulu, dan kita
selamat. Atau mungkin menyenangkan menjadi kepompong. Hidup penuh kenyamanan
tanpa peduli ada gangguan. mengisolasi diri dari keadaan. Tak peduli anak-anak
bangsa ini menangis mengais makan, dan lebih banyak lagi saudara kita
kelaparan. Namun, bukankah lebih menyenangkan menjadi kupu-kupu? menjelajah
warna-warni dunia. Menjadi penolong kelangsungan hidup sekuntum bunga sebagai
polinator. Melihat betapa besar Allah menciptakan kebesaran bangsa Indonesia
dengan potensinya. Kita pun mampu menjadi pembawa kehidupan bagi bangsa ini.
Sebuah retorika tentang tumpuan kelanjutan
peradaban sebuah bangsa dalam genggaman generasi muda. Idealisme pemuda yang
sanggup mengalahkan menjadi syarat konsep kepemimpinan transformatif. Memulai
sebuah perubahan diperlukan kesiapan menembus pembaharuan yang penuh resiko.
Hanya dengan kesiapan pengetahuan, kepemimpinan, dan keterampilan dari generasi
muda hal ini dapat diraih.
Rasulullah saw bersabda: "Setiap kalian adalah
pemimpin, dan kalian akan dimintai pertanggung jawabannya". Banyak dari
kita yang tahu bagaimana keadaaan bangsa ini. Namun, lebih banyak dari kita
yang memilih menutup telinga dan acuh pada semua yang telah ada. Adakah benar
ungkapan "Diam itu Emas"? SALAH BESAR orang yang mengatakannya.
Rasulullah bersabda: Barangsiapa beriman kepada Allah dan hari akhir maka
berkatalah baik atau diam. Sebuah kebodohan kawan pabila kita berkata diam itu
emas. Atau mungkin kita termasuk golongan orang yang tidak beriman kepada Allah
dan hari akhir? Naudzubillahi min dzalik. Rasulullah dalam hadis ini menyampaikan
diam bukanlah EMAS melainkan PERAK. Berkatalah baik maka kau akan mendapat
EMAS. Sampaikan berita baik dan kebenaran maka kau akan dapat EMAS. Berjuanglah
untuk bangsamu maka kau akan dapat tempat tertinggi. Bukan hanya apatis dan
tidak peduli akan semuanya.
Pun, tak semudah membalikkan telapak tangan.
Generasi muda bangsa ini perlu disadarakan tentang potensi diri mereka. Melalui
serangkaian pengembangan kesadaran pengabdian pada masyarakat. Melalui
organisasi internal lembaga pendidikan setingkat OSIS, BEM. Melalui kegiatan
kepemudaan karang taruna, Pramuka, Palang Merah Remaja dan sebagainya. Generasi
ini perlu disadarkan kembali tentang nilai dedikasi dan nasionalisme.
Dikembalikan pada ideologi bangsa sebagai sebuah falsafah dan nilai luhur yang
ingin dicapai bersama menuju kesejahteraan. Menuju generasi Indonesia dengan
sumber daya manusia yang mumpuni, mampu mengelola sumber daya alam Indonesia
secara mandiri. Mencetak generasi kritis yang menguasai teknologi dengan
semangat nasionalisme. Menuju peradaban baru Indonesia.
Secara konkret bangsa ini perlu berbenah. Sedikit
demi sedikit menghilangkan egoisme individual. Mengembangkan kesadaran nasional
secara simultan. Mendongkrak semangat generasi muda penerus bangsa terus
berprestasi untuk negeri. Mengikis perbedaan etnis, menjalin kerukunan, dan
mulai menyandang integrasi sebagaimana para pemuda Indonesia telah bersumpah.
Penggiatan kegiatan pengembangan kecakapan hidup dan jiwa kepemimpinan bagi
generasi muda. Bertindak aktif dalam menjaga norma dan nilai luhur bangsa dalam
disiplin pribadi, sosial, dan nasional. Membangun kepercayaan kepada
pemenrintah dan pembangunan yang berkesinambungan.
Bangkitlah pemuda bangsa, bangkitlah generasiku!


Tidak ada komentar:
Posting Komentar