![]() |
| Take from Google Image |
Memaknai tiap gurat kehidupan memang melelahkan. Lihat bocah kecil berlari riang dalam keramaian jalan. Tengok betapa piawai tangannya bergerak dalam barisan fret teratur. Lincah ia memetik dawai gitar, menyanyikan elegi suram malam ini. Meski sengau terdengar parau. Tak apalah, toh baguspun tiada yang peduli. Biarlah, selama perut kosong dapat terganjal, kardus usang serasa hotel berbintang. Mata sayup redup, hanya kepul asap dan rentetan mobil beriring yang ia saksikan. Ketika anak seusianya berceloteh riang dengan ayah dan bunda tersayang, bertanya tentang apa menu makan malam. Bercerita tentang pelajaran dari ibu guru hari ini. Berceloteh tentang impian dan masa depan. Pun, kata itu tak pernah nampak dalam hidupnya, “Mimpi, masa depan”.
Lain cerita, lain asa dengan satu persamaan masa. Di waktu yang sama di tempat yang lain, seorang lelaki bersuara lantang. Bergelora penuh semangat. Matanya menyalak, suaranya tegas menghardik. Mengerahkan semua kemampuan verbal yang ia miliki. Malam ini sidang terakhir pembahasan kenaikan tunjangan dan gaji anggota dewan, rupanya segala kemewahannya tampak kurang bergelimpang. Anggota dewan yang terhormat. Sebagian dengan sabar menungguinya menurunkan pengeras suara yang dia genggam. Sebagian menikmati busa empuk di kursi kehormatan dan jatuh terlelap di meja elegan berpelitur coklat. Malam ini diskusi berjalan alot. Tidak sedikit yang merasa cukup mempertahankan nilai puluhan juta tunjuangan yang diterima. Lebih banyak yang menghardik tunjangan yang terlampau kecil atas usaha mereka untuk “rakyat”.
Namun, betapa melelahkannya mereka bukan? Tak adakah penat menggunung dalam benak, atau mungkin sekadar letih berkata pada lelah dalam entah?
"Hai kau yang bernyanyi dengan riang, tak bisakah berhenti sejenak? Mari menikmati secangkir teh dengan alunan musik klasik merdu," Kataku.
"Maaf, waktuku adalah penghidupanku. Nyanyianku adalah janjiku untuk perut kosongku." Katanya.
"Hei kau, Pria berdasi dengan sepatu hitam legam tak tersentuh debu, marilah bersantai sejenak. Lupakan tender ambisius dan kertas perjalanan dinasmu sebentar. Lupakan usungan partai dan aliran dana sekian pulu Miliarmu, duduklah bersama kami. Bukankah ini hari libur kita" Kataku.
"Maaf kawan, tiada libur bagi petugas pengabdi 'Rakyat' seperti kami. Proyek ini harus kami menangkan, sudah lama istriku berkeinginan menginap di Venesia dan belanja ke Paris. Anakku paling muda kini telah SMP dan aku berjanji membelikannya mobil baru, kasihan dia nanti di olokolok temannya," Katanya.
Betapa mengesalkannya mereka. Hei.. bahkan ini hanya sejenak. Mari sebentar kita tersenyum dalam penat.
"Hei kau yang berdasi dengan sepatu hitam legam tak tersentuh debu, tak kenalkah engkau dengan anak riang itu? Mari bertegur sapa dalam lelah dan letih. Bukankah hidup ini hanya sementara?"
Kawan, kini aku hendak bertanya, maukah kau menjawabnya?
Ketika mata tertutup oleh selimut pekatnya malam, benarkah warna telah hilang dari pelupuk mata? Adakah suara telah sempurna tak terdengar oleh telinga? Kawan, Benarkah? walau ibu sang anak riang, menangis tertahan dalam senyapnya gelap, ia meratap. Adakah mata kita tidak mampu menangkap siluet ketidakmampuan, telinga kita tiada mampu mendengar jeritnya? Atau kita hanya berpura-pura tidak melihat dan tidak mendengar?
Kawan, kini aku hendak bertanya, maukah kau menjawabnya?
Kawan, adakah sekali-kali kita berpikir, bilakah mata itu akan terbuka kembali saat fajar merona di ufuk timur semesta? Ketika telah purna tugas kita di dunia, telah siapkah bekal kita untuk perjalanan selanjutnya? Adakah dunia telah mengenal kita sebagai seorang yang didamba adanya dan dirindu tiadanya, atau malah sebaliknya? Kawan, tak ada seorangpun yang mampu menjawabnya kecuali kita, ya... hanya kita, aku dan kamu.
Kawan, kini aku hendak bertanya, maukah kau menjawabnya?
Kawan, perjalanan ini hanya sejenak. Bersabarlah. Sedikit demi sedikit kita kumpulkan bekal untuk perjalanan kita selanjutnya, perjalanan yang lebih panjang, dan entah apakah akan lebih melelahkan. Maka istirahat di hari libur ini kawan, aku sangsi adanya. Dimanakah kita meletakkan hari libur itu? Perjalanan sejenak ini tidak mengenal libur. Saat sejenak kita beristirahat dari mengumpulkan bekal, disaat yang sama orang lain berlomba mendahului kita. Bukankah kita bisa tertinggal, kawan?

good job, bapak ketan :D
BalasHapusnice :)
BalasHapushidup emang terlalu singkat bila hanya untuk rutinitas yang tiada habisnya,,,,
BalasHapus#renungan yang bagus buat pembelajaran awal tahun