Rabu, 03 April 2013

Menyulam Mimpi di Terumbu Karang

Catatan wawancara dengan I Gede Putu Dharma Yusa (4SE1) sineas Eagle Documentary Series dalam Film Dokumenter “Karya Segara” dan Finalis Eagle Award 2012

           Senja tenggelam memeluk ufuk, saat gurat jingga dan rona lembayung merah melukis langit Jakarta. Dalam hiruk-pikuk kesibukan kota, Yusa membagi kisahnya. Tentang mimpi yang terurai menjadi pernik jejak kehidupan, tentang berjuang mengkonversi imajinasi menjadi langkah nyata.
            Bagi seorang penulis, menjadi seorang sineas yang mampu merubah luapan ide tertulis menjadi kerangka visual adalah bentuk progresivitas pembelajaran. Untuk seorang Yusa Dharma, fase ini dipertemukan oleh kegemarannya menulis. Entah berapa judul riset yang telah Ia rampungkan sejak di sekolah menengah. Menjadi peneliti LPIR, juara pertama lomba kepenulisan karya ilmiah ITB Tahun 2008, mengikuti kontes inovator muda LIPI dan mendapatkan medali perak Innovator Award di tahun yang sama, itulah dunianya. Ini yang membawanya berkenalan dengan sinematografi.
            Produktivitas risetnya sempat terhenti ketika dihadapkan pada aktivitas masa kuliah yang lebih padat. Namun, bukan Yusa bila Ia meyerah terbentuk menjadi kotak. Ia adalah pemain utama dalam panggung kehidupannya, Think out of the box. Ia telah berhasil keluar dari kotak itu saat berhasil menjuarai perlombaan Blog bersamaan dengan padatnya aktivitas kampus. Maka ini adalah langkah melanjutakan apa yang telah ia mulai. Ia tidak rela mimpinya terhenti disini, risetnya tidak akan terhenti begitu saja.
            Yusa seorang pemimpi ulung. Saat masih di sekolah dasar ia pernah bermimpi mengenalkan Bali dan elok terumbu karang di tanahnya. Yusa melihat kesempatan melanjutkan risetnya ada pada event Eagle Award. Memulai langkah selanjutnya dengan memilih Eagle Award sebagai jalan perangkai mimpi, Ia sangat sadar akan menembus prosedur birokrasi yang cukup rumit. Akhir Maret 2012 Ia menuangkan ide “Karya Segara” nya, menjadikannya satu dari sekian ratus konsep ide lain yang menjadi pendaftar Eagle Award 2012, Minggu ke-3 April ia dapati idenya menjadi satu dari 50 finalis. Satu pekan setelahnya, ketika tersibukkan oleh aktivitas OPTK idenya berhasil menembus 22 Besar Finalis Eagle Award 2012, saat ini ia masih ada diurutan belasan. Kini langkahnya akan menanjak jauh lebih terjal.
Proses seleksi menuju 10 besar dilaksanakan melalui presentasi ide kepada dewan juri melalui Teleconference, pada tahap ini Yusa masuk 10 besar finalis sebagai urutan terbaik pertama. Ia mendapat kesempatan mengikuti beasiswa karantina selama satu pekan. Kini ia dibenturkan prosedur izin yang melelahkan. Beruntung kedekatannya dengan Pembantu Ketua I STIS menghantarkannya pada kesempatan melabuhkan ilmu. Atas saran menyurati langsung Ketua STIS kala itu, Bapak Adi Lumaksono, Ia berkesempatan menyampaikan gagasan idenya dan mendapatkan izin.
Di karantina ini ia belajar segala seluk-beluk sinematografi. Bagaimana merubah konsep riset tertulis menjadi sebuah visualisasi terdeskripsi. Dari 10 Finalis akhir hanya 5 ide yang akan diangkat menjadi Film. 5 hari belajar dan mengamati, 2 hari penjurian dan pertarungan ide. Mengejar kemungkinan idenya akan difilmkan. Penjurian selesai 12 Juni 2012 idenya difavoritkan, namun kesempatan belum berpihak. 5 ide terpilih bukan idenya yang akan menjadi Film dan dinominasikan di Eagle Award 2012.
Disini letak pembeda. Yusa benar pemimpi ulung, sejauh ini ia telah melangkah urung ia surutkan langkah. Secara formal telah terpisah dengan komunitas kompetisi, Yusa senantiasa menjaga komunikasi intens. Pada saat pendalaman materi lanjutan sinematografi dilaksanakan, nekat ia datang hendak ikut belajar. Beruntung lokasi ada di Jakrta pusat, masih dalam jangkauan akses. Komunikasi yang senantiasa terjaga membantunya tetap menjadi “peserta”. “Mungkin melihat kesungguhan saya,” kata Yusa.
Tuhan memang selalu mengerti. Kesungguhan Yusa menghantarkan pada panggilan pihak Metro TV bahwa akan ada lanjutan kegiatan, Eagle Documentary Series. “ini tahun pertama setelah 8 tahun Eagle Award ada, dan ini tahun saya,”  Yusa menyampaikan. Seri ini memberi kesempatan bagi seluruh ide dari 8 tahun Eagle Award digelar untuk dapat difilmkan menjadi 13 seri film terpilih. Lebih dari beruntung untuk dapat menjadi satu dari 13 seri ini, dan Yusa mendapat kesempatan itu.
Persiapan dilaksanakan dalam tempo yang sangat cepat. Tanggal 4 Maret 2013 produser acara memberi kepastian konsep cerita ini akan segera dieksekusi, 6 Maret 2013 berangkat menuju lokasi di Bali mengejar momen reklamasi. Cerita reklamasi ini adalah kisah upacara adat penyatuan tanah adata dengan tanah reklamasi di sekeliling Pulau Sarangan yang luas tanah barunya 3 kali lipat luas pulau itu sendiri. “Entah berapa banyak terumbu karang dan biota laut lain yang tertimbun,” sesal Yusa. 4 hari menyelesaikan pengambilan gambar dan keperluan lainnya sebelum Hari Raya Nyepi, tanggal 18-27 Maret 2013 proses editing Film, 29 Maret 2013 sudah naik tayang di Metro TV.
Kombinasi dari kesigapan, dedikasi, dan kesungguhan. Keberanian menembus sistem yang merepotkan mewujudkan puing impian. Berpikir dan bertindak diluar kotak, think outside the box. Tak terhitung segala momen kenangan yang tergoreskan, semakin menguatkan bahwa mimpi tidak akan pernah menjadi nyata bila kita tidak bangun dan mewujudkannya. (ewa) 

Kamis, 03 Januari 2013

Kawan, Kini Aku Hendak Bertanya, Maukah Kau Menjawabnya?

Take from Google Image
Memaknai tiap gurat kehidupan memang melelahkan. Lihat bocah kecil berlari riang dalam keramaian jalan. Tengok betapa piawai tangannya bergerak dalam barisan fret teratur. Lincah ia memetik dawai gitar, menyanyikan elegi suram malam ini. Meski sengau terdengar parau. Tak apalah, toh baguspun tiada yang peduli. Biarlah, selama perut kosong dapat terganjal, kardus usang serasa hotel berbintang. Mata sayup redup, hanya kepul asap dan rentetan mobil beriring yang ia saksikan. Ketika anak seusianya berceloteh riang dengan ayah dan bunda tersayang, bertanya tentang apa menu makan malam. Bercerita tentang pelajaran dari ibu guru hari ini. Berceloteh tentang impian dan masa depan. Pun, kata itu tak pernah nampak dalam hidupnya, “Mimpi, masa depan”.

Lain cerita, lain asa dengan satu persamaan masa. Di waktu yang sama di tempat yang lain, seorang lelaki bersuara lantang. Bergelora penuh semangat. Matanya menyalak, suaranya tegas menghardik. Mengerahkan semua kemampuan verbal yang ia miliki. Malam ini sidang terakhir pembahasan kenaikan tunjangan dan gaji anggota dewan, rupanya segala kemewahannya tampak kurang bergelimpang. Anggota dewan yang terhormat. Sebagian dengan sabar menungguinya menurunkan pengeras suara yang dia genggam. Sebagian menikmati busa empuk di kursi kehormatan dan jatuh terlelap di meja elegan berpelitur coklat. Malam ini diskusi berjalan alot. Tidak sedikit yang merasa cukup mempertahankan nilai puluhan juta tunjuangan yang diterima. Lebih banyak yang menghardik tunjangan yang terlampau kecil atas usaha mereka untuk “rakyat”. 

Namun, betapa melelahkannya mereka bukan? Tak adakah penat menggunung dalam benak, atau mungkin sekadar letih berkata pada lelah dalam entah? 
"Hai kau yang bernyanyi dengan riang, tak bisakah berhenti sejenak? Mari menikmati secangkir teh dengan alunan musik klasik merdu," Kataku. 
"Maaf, waktuku adalah penghidupanku. Nyanyianku adalah janjiku untuk perut kosongku." Katanya. 
"Hei kau, Pria berdasi dengan sepatu hitam legam tak tersentuh debu, marilah bersantai sejenak. Lupakan tender ambisius dan kertas perjalanan dinasmu sebentar. Lupakan usungan partai dan aliran dana sekian pulu Miliarmu, duduklah bersama kami. Bukankah ini hari libur kita" Kataku.
"Maaf kawan, tiada libur bagi petugas pengabdi 'Rakyat' seperti kami. Proyek ini harus kami menangkan, sudah lama istriku berkeinginan menginap di Venesia dan belanja ke Paris. Anakku paling muda kini telah SMP dan aku berjanji membelikannya mobil baru, kasihan dia nanti di olokolok temannya," Katanya. 

Betapa mengesalkannya mereka. Hei.. bahkan ini hanya sejenak. Mari sebentar kita tersenyum dalam penat.
"Hei kau yang berdasi dengan sepatu hitam legam tak tersentuh debu, tak kenalkah engkau dengan anak riang itu? Mari bertegur sapa dalam lelah dan letih. Bukankah hidup ini hanya sementara?"

Kawan, kini aku hendak bertanya, maukah kau menjawabnya?
Ketika mata tertutup oleh selimut pekatnya malam, benarkah warna telah hilang dari pelupuk mata? Adakah suara telah sempurna tak terdengar oleh telinga? Kawan, Benarkah? walau ibu sang anak riang, menangis tertahan dalam senyapnya gelap, ia meratap. Adakah mata kita tidak mampu menangkap siluet ketidakmampuan, telinga kita tiada mampu mendengar jeritnya? Atau kita hanya berpura-pura tidak melihat dan tidak mendengar?

Kawan, kini aku hendak bertanya, maukah kau menjawabnya?
Kawan, adakah sekali-kali kita berpikir, bilakah mata itu akan terbuka kembali saat fajar merona di ufuk timur semesta? Ketika telah purna tugas kita di dunia, telah siapkah bekal kita untuk perjalanan selanjutnya? Adakah dunia telah mengenal kita sebagai seorang yang didamba adanya dan dirindu tiadanya, atau malah sebaliknya? Kawan, tak ada seorangpun yang mampu menjawabnya kecuali kita, ya... hanya kita, aku dan kamu.

Kawan, kini aku hendak bertanya, maukah kau menjawabnya?
Kawan, perjalanan ini hanya sejenak. Bersabarlah. Sedikit demi sedikit kita kumpulkan bekal untuk perjalanan kita selanjutnya, perjalanan yang lebih panjang, dan entah apakah akan lebih melelahkan. Maka istirahat di hari libur ini kawan, aku sangsi adanya. Dimanakah kita meletakkan hari libur itu? Perjalanan sejenak ini tidak mengenal libur. Saat sejenak kita beristirahat dari mengumpulkan bekal, disaat yang sama orang lain berlomba mendahului kita. Bukankah kita bisa tertinggal, kawan?

Jumat, 05 Oktober 2012

Coretan untuk Ikhwan dan Akhwat

Untuk Ikhwan:
"Wanita selalu mengembalikan yang lebih untuk pria.
Jika kamu memberinya rumah, maka ia akan memberimu kehangatan dalam rumahmu.
Jika kamu memberinya beras, ia akan mengembalikan nasi untukmu.
Jika kamu memberinya CINTA, ia akan memberimu pengabdian seumur hidupnya.
Tapi jika kau memberinya hinaan, ia akan memberimu doa dalam airmata kepedihannya, dan itu berarti siapkan dirimu untuk berjuta KEMALANGAN!"
Jika kemarin kamu berdoa & yakin bahwa dialah tulang rusukmu, maka terimalah dia bukan sebagai wanita yang sempurna, melainkan sebagai wanita yang terbaik dari Allah.
Bukanlah dia yang tidak pernah berbuat salah, tapi dia yang selalu berkata maaf untuk setiap kesalahannya dan ia yang punya sejuta maaf untuk kesalahanmu.
Ia yang menerima masa lalu mu & yang siap merancangkan masa depannya bersamamu.
Ia yang selalu cemas & hilang akal ketika kamu tak memberinya kabar.
Jika dulu sifat manjanya membuatmu tertawa lucu, cemburunya berarti sayang, airmatanya bisa menyayat hatimu, tapi jika sekarang semuanya itu jadi alasan kamu melepaskannya, maka merenunglah sejenak!
"Mengapa wanita tercipta dari tulang rusuk pria.. bukan dari tulang kepala karena wanita bukan untuk memimpin pria, bukan dari tulang kaki karena wanita bukan alas kaki pria & diinjak. Tapi ia tercipta dari tulang rusuk pria karena dekat dengan hati, agar wanita menjadi pendamping, penjaga hati, untuk dilindungi & disayangi. Karena wanita akan terlelap dalam dekapan pria, karena wanita tahu dari sana dia berasal."


Untuk Akhwat:
"berabad2 yang lalu wanita derajatnya tidak lebih dari sebuah barang, bisa ditukar, dijual, atau dibuang bila bosan... Dan lelaki, adalah pemiliknya.. Bayi perempuan yang terlahir menjadi aib bagi keluarga hingga harus dikubur atau dikuliti hidup2...
Hingga kemudian cahaya keimanan datang membumihanguskan segala kejahiliahan, mengembalikan norma dan hati nurani manusia kembali ke tempatnya, saat itu wanitia begitu luhur derajatnya.. Seorang wanita disanjung sebagai tiang penyangga tegaknya sebuah negara. Peran dan fungsi wanita dikembalikan pada fitrah penciptaannya.. Seorang ibu, bahkan telapak kakinya dianalogikan sebagai gerbang kebahagiaan surga, kepatuhan seorang anak sebagai kunci pembukanya.. Wanita begitu berharga, mereka begitu mulia.. tak salah pepatah menceritakan bahwa dibalik sukses seorang pria, selalu ada sosok wanita tangguh di belkangnya... 
Namun saksikanlah kini,, tidak susah menjumpai wanita yang mengobral murah dirinya sendiri.. Bahkan *Maaf* ada y membuat diri mereka gratis, atau bahkan mungkin ada y lebih ekstrem dari itu, dengan memberi upah.. *maaf*
Dalam lingkup kecil kampus STIS tempat kita menimba ilmu dan menempa diri, mungkin lingkungan ini terasa jauh tak tersentuh,,, Alhamdulillah, segala puji bagi Allah, kita dipilihkan lingkungan yang baik ini.. Namun, kita tidak bisa selalu menutup mata, mereka ada, mereka nyata di sekeliling kita... Mereka bagian dari kita...
betapa penting bagi kita saling menjaga diri, memantaskan diri dengan harga y kita patok sendiri,, apakah harga kita sebatas rayuan gombal ataukah ikatan suci dalam ibadah.. Ini cakupan pilihan sederhana yang mungkin masih dekat dengan kita.. Ini adalah pilihan nyata yang harus kita kuatkan dalam prinsip kehidupan kita..
Dalam sistem sosial manusia, komunikasi selalu dilakukan dua arah dan timpal balik, maka sudah sepantasnyalah penjagaa diri seperti ini, dilakukan oleh dua pihak yang berkaitan.. Bukan hanya tugas wanita untuk menjaga dirinya sendiri,, namun sinergi antara Pria dan wanita kuncinya... Demi kemuliaan fitrah manusia itu sendiri.. 
Tahapan kita sebagai golongan intelektual terpelajar mestinya lebih akrab memahami bahasan ini, sehingga lebih mudah bagi kita untuk saling menjaga diri,, apalagi dalam hiruk pikuk kemegahan metropolitan.. Namun, tuntutan kita tidak berhenti sampai pada pemahaman kita akan harga diri kita sendiri,, kini,, tugas kita saling mengingatkan para wanita mulia yang lupa betapa berharganya dia.. Mari Mulia bersama-sama!!"

Senin, 18 Juni 2012

Menjemput Keberuntungan

Allah menyebutkan 13 kriteria orang beruntung dalam Alquran yang mulia. Adakah kita termasuk di dalamnya??
1. mendapat petunjuk dari Tuhan mereka/orang yang beiman (2:5), (31:5), (23:1), (7:157)
2. bertakwa kepada Allah menurut kesanggupan, mendengar serta taat, menafkahkan nafkah yang baik, dan dipelihara dari kekikiran dirinya (64:16)
3. bertebaran di muka bumi seusai sholat, mencari nafkah yang baik, dan mengingat Allah sebanyak2nya (62:10)
4. Mencintai saudaranya yang berhijrah dan mau membantu meskipun mereka sendiri masih dilanda kekurangan (59:9)
5. Tidak menyayangi/saling bekasih sayang dengan orang2 yang menentang Allah dan Rasul-Nya (58:22)
6. memberi kepada kerabat yang terdekat akan haknya, demikian (pula) kepada fakir miskin dan orang-orang yang dalam perjalanan (30:38)
7. bila mereka dipanggil kepada Allah dan rasul-Nya agar rasul menghukum (mengadili) di antara mereka mengucap. "Kami mendengar, dan kami patuh." (24:51)
8. menahan pandangan dan kemaluan, serta menutup aurat (24:31)
9. berjihad dengan harta dan diri mereka (9:88)
10. apabila memerangi pasukan (musuh), berteguh hati dan menyebut (nama) Allah sebanyak-banyaknya (8:45)
11. berat timbangan kebaikannya (7:8)
12. bersabar dan siap siaga (3:200)
13. menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma'ruf dan mencegah dari yang munkar (3:104)

Ingat, Itu Adalah Hati!

"Inna fil jasadi lamudghatan, iza soluhat soluhal jasaadu kulluh, iza fasadat fasadal jasadu kulluh, Alaa wahiya Qalbu" (H.R. Bukhori No. 52 dan Muslim No. 1599)

Diceritakan, suatu ketika seorang santri berkunjung pada syekh mursyidnya. Ia mengadukan segala permasalahan hidupnya yang begitu pelik seakan dirinya adalah manusia paling malang sedunia. Dengan penuh hikmah dan kebijaksanaan, syekh tersebut mengajaknya ke tepi danau di belakang bukit. Sang syekh mengeluarkan sebuah gelas piala dan mengambil air danau dengannya. Diberikannya 2 bungkus garam dan gelas tersebut kepada sang pemuda. Satu bungkus garam untuk ditaburkan ke air dalam gelas, satu bungkus untuk ditaburkan ke dalam danau. Sang syekh meminta pemuda tersebut meminta air garam dalam gelas.
"Coba kau minum air dalam gelas itu nak, coba terangkan seperti apa rasanya!" Sang Syekh berkata.
"Pahit syekh". Jawab sang pemuda sambil menyemburkan air asin dalam mulutnya.
"Sekarang coba kau ambil air di danau itu dengan gelas yang tadi. Kau tumpahkan dulu isinya nak! Bagaimana rasanya?" Timpal sang Syekh.
"Mmm... Sssegar... Syekh." Jawab sang pemuda.
"Tahukah kau apa artinya nak?" Tanya sang Syekh bijak.
"Tidak. eh, belum Syekh." Sang pemuda menjawab.
"Begini nak, kadar beban-masalah yang dilimpahkan Allah kepada hambanya sebenarnya hanyalah sebungkus garam tadi, dan yang menjadikan beban-masalah tadi terasa pahit atau segar menyenangkan hanyalah keluasan hati kita. Kalu hati ini sempit laksana gelas hanyalah pahit yang kita rasa. Namun, jika hati seluas danau, maka kesegaran yang akan kita rasakan. Ingat, hati-hatilah dengan hati." Jelas sang Syekh.

Mungkin sangat sering ketika kaki hendak melangkah pergi, terdengar suara lebut mengingatkan "Hati-hati!" Eh, apa pasal kaki yang bergerak tapi hati yang dipanggil? Kenapa bukan mata mungkin, agar senantiasa terjaga memilih jalan untuk dilalui. Atau mungkin kepala, yang paling kita jaga. Kenapa Hati? Ada apa dengan Hati? Dengan logika biasa tentu akan repot menjelaskannya. Namun, ketika kita mau mengaitkannya dengan apa yang disampaikan baginda Rasulullah saw berabad-abad silam, rasio akal akan tersambung dengan sangat sederhana. "Sesungguhnya di dalam jasad terdapat segumpal darah. Apabila baik, maka baiklah seluruh jasad, dan apabila rusak, maka rusaklah seluruh jasad. Ingat, itu adalah hati." Sabda Rasulullah saw yang diriwayatkan oleh Bukhori dan Muslim.

Minggu, 17 Juni 2012

Sebuah Kontemplasi


"Perjuanganku lebih mudah karena melawan penjajah, perjuangan kalian akan lebih sulit karena melawan bangsamu sendiri." (Soekarno-Proklamator)

Negeri itu Bernama Indonesia 
Sebait elegi nyanyian suram seorang bocah di tepi jalan. Menderu-deram dalam bising kota pesakitan. Berjalan menembus kepul asap, beriring dengan para pelintas jalan. Tak apalah sengau mereka dengar, toh baguspun tak ada yang peduli. Biarlah, selama perut kosong dapat terganjal, kardus usang serasa hotel berbintang. Mata sayup redup, hanya kepul asap dan rentetan mobil beriring yang ia saksikan. Ketika anak seusianya berceloteh riang dengan ayah dan bunda tersayang, bertanya tentang apa menu makan malam. Bercerita tentang pelajaran dari ibu guru hari ini. Berceloteh tentang impian dan masa depan. Pun, kata itu tak pernah nampak dalam hidupnya, “Mimpi, masa depan”.
Di waktu yang sama di tempat yang lain, seorang lelaki bersuara lantang. Bergelora penuh semangat. Matanya menyalak, suaranya tegas menghardik. Mengerahkan semua kemampuan verbal yang ia miliki. Malam ini sidang terakhir pembahasan kenaikan tunjangan dan gaji anggota dewan, rupanya segala kemewahannya tampak kurang bergelimpang. Anggota dewan yang terhormat. Sebagian dengan sabar menungguinya menurunkan pengeras suara yang dia genggam. Sebagian menikmati busa empuk di kursi kehormatan dan jatuh terlelap di meja elegan berpelitur coklat. Malam ini diskusi berjalan alot. Tidak sedikit yang merasa cukup mempertahankan nilai puluhan juta tunjuangan yang diterima. Lebih banyak yang menghardik tunjangan yang terlampau kecil atas usaha mereka untuk “rakyat”. Ya, inilah potret kecil kehidupan negeri ini. Negeri “indah” tempat kuterlahir, menjadi bagian hidup dari tanah, Indonesia.
Adakah yang meragukan pesona tanah Indonesia? Hamparan zamrud hijau nan elok di batas khatulistiwa. Tanah subur Indonesia yang telah menumbuhkan 6 ribu jenis anggrek, biodiversitas anggrek terbesar di dunia. Indonesia dengan spesies bambu, palem, rotan, meranti, kupu-kupu, dan mamalia terbesar di dunia. Indonesia dengan 39.549.447 hektar hutan tropis dengan keanekaragaman hayati dan plasmanutfah terlengkap di dunia.
Siapakah yang meragukan kekayaan alam Indonesia? Produsen timah terbesar kedua dunia, peringkat 1 produksi cengkeh dan pala dengan kualitas tinggi, peringkat 2 produksi karet alam dan minyak sawit mentah. Indonesia produsen terbesar gas cair, memenuhi 20% konsumsi dunia. Indonesia dengan cadangan minyak 9,7 juta barrel dan cadangan gas alam 146,7 triliun kaki kubik. Indonesia dengan tambang tembaga terbesar ketiga di dunia. Indonesia dengan bahan galian terbanyak di dunia. Begitu banyak nikmat Tuhan tanam dalam tanah Indonesia.

Bangsa yang Tertawan
Sebatas kontemplasi akan makna kebebasan dan kemerdekaan. 66 tahun silam, Bapak pendiri negara ini dengan lantang mengumandangkan kemerdekaan tanah ini. Dalam bayang bayonet dan moncong pistol menyuarakan konstitusi Indonesia. Menyatakan kedaulatan bangsa Indonesia. Setelah berabad-abad hidup tertawan dan terkungkung dalam jajahan.
Adakah tanah ini telah merdeka? Ya, ini tanah merdeka. Adakah bangsa ini berdaulat? Ya, ini bangsa berdaulat. Adakah bangsa ini hidup sebagai tawanan? Ya, bangsa ini masih tertawan. Bukan terkungkung dalam kilat senjata dan kekerasan fisik. Bangsa ini tertawan oleh tekanan psikis dan “keberhasilan” produk pendidikan. Tokoh berdasi dalam rentetan gelar akademis yang duduk dalam singgasana para pengambil kebijakan. Apakah ini produk pendidikan Indonesia? Tentu bukan, pendidikan itu mencerdasakan bukan membodohi.
Bangsa ini tertawan oleh keserakahan. Oleh saudara pengambil kebijakan negeri kaya nan elok menawan. Bangsa ini ditidurkan dalam impian janji tentang masa depan. Mati suri atas segala kedigdayaan tanah nusantara Indonesia. Dilematika krisis sosial terpuruk oleh regenerasi yang lambat, kehilangan semangat dan komitmen membangun sumberdaya manusia yang mandiri.

Kepak Sayap Jiwa Pembaharu
Secara konstitusional bangsa ini telah merdeka. Memang. Namun, sumber daya Indonesia tetap menjadi bulan-bulanan teknologi bangsa lain. Perut-perut tanah pertiwi Indonesia dikeruk, digagahi pengetahuan dan kemampuan sumber daya manusia bangsa lain. Apakah generasi muda ini belum mengenal potensinya sendiri? Tidak juga, betapa banyak kecerdasan anak muda bangsa ini diakui dunia. Dikalungi medali kebanggan dalam even bergengsi Internasional.
Kuncup tunas bangsa pengemban estafet pembangunan telah tumbuh. Namun sayang, tidak sepenuhnya tanah Indonesia menjadi media tumbuh yang cocok bagi tunas ini. Satu-persatu kuncup-kuncup muda tumpuan bangsa diangkut dan dikembangkan di negeri orang. Mekar dan berbuah di negeri orang. Sudah banyak akademisi bangsa ini berkarya bukan di negeri mereka sendiri. Mereka takut menjadi layu oleh birokrasi dan iklim politik di tanah sendiri.
Ibarat sebuah mata rantai yang terjurai panjang, posisis generasi muda dalam masyarakat menempati mata rantai yang paling sentral. Berfungsi sebagai penerus cita-cita perjuangan bangsa yang telah diletakkan oleh generasi sebelumnya dan berkemampuan untuk mengisi dan membina kemerdekaan . Sosok generasi muda merupakan suatu entitas potensial. Sejarah mencatat, peran sentral generasi muda Indonesia dari masa ke masa sebagi sebuah sumber prakarsa dan perintis kebangkitan. Integrasi pemuda Indonesia dalam Sumpah Pemuda tahun 1928 menjadi tonggak pergerakan idealisme bangsa merdeka. Generasi muda Indonesia secara kultural selalu menjadi poros perubahan yang selalu tanggap terhadap polemik bangsa Indonesia. Menjadi yang terdepan dalam segala dimensi kehidupan.

Mengusung Peta Konsep Masa Depan
Memang menyenangkan menjadi telur. Bersembunyi di dalam cangkang, terselimut oleh kedamaian. Tak peduli akan apa yang terjadi diluarnya, negaranya luluh lantak oleh bencana, acuh-tidak mau tahu. Mungkin lebih menyenangkan menjadi ulat. Berjalan lambat penuh ketenangan. Tak peduli bangsa lain melangkah sangat jauh dan kita tertinggal. Setidaknya apabila ada lubang di depan, yang melaju lebih kencang akan terjebak lebih dulu, dan kita selamat. Atau mungkin menyenangkan menjadi kepompong. Hidup penuh kenyamanan tanpa peduli ada gangguan. mengisolasi diri dari keadaan. Tak peduli anak-anak bangsa ini menangis mengais makan, dan lebih banyak lagi saudara kita kelaparan. Namun, bukankah lebih menyenangkan menjadi kupu-kupu? menjelajah warna-warni dunia. Menjadi penolong kelangsungan hidup sekuntum bunga sebagai polinator. Melihat betapa besar Allah menciptakan kebesaran bangsa Indonesia dengan potensinya. Kita pun mampu menjadi pembawa kehidupan bagi bangsa ini.
Sebuah retorika tentang tumpuan kelanjutan peradaban sebuah bangsa dalam genggaman generasi muda. Idealisme pemuda yang sanggup mengalahkan menjadi syarat konsep kepemimpinan transformatif. Memulai sebuah perubahan diperlukan kesiapan menembus pembaharuan yang penuh resiko. Hanya dengan kesiapan pengetahuan, kepemimpinan, dan keterampilan dari generasi muda hal ini dapat diraih.
Rasulullah saw bersabda: "Setiap kalian adalah pemimpin, dan kalian akan dimintai pertanggung jawabannya". Banyak dari kita yang tahu bagaimana keadaaan bangsa ini. Namun, lebih banyak dari kita yang memilih menutup telinga dan acuh pada semua yang telah ada. Adakah benar ungkapan "Diam itu Emas"? SALAH BESAR orang yang mengatakannya. Rasulullah bersabda: Barangsiapa beriman kepada Allah dan hari akhir maka berkatalah baik atau diam. Sebuah kebodohan kawan pabila kita berkata diam itu emas. Atau mungkin kita termasuk golongan orang yang tidak beriman kepada Allah dan hari akhir? Naudzubillahi min dzalik. Rasulullah dalam hadis ini menyampaikan diam bukanlah EMAS melainkan PERAK. Berkatalah baik maka kau akan mendapat EMAS. Sampaikan berita baik dan kebenaran maka kau akan dapat EMAS. Berjuanglah untuk bangsamu maka kau akan dapat tempat tertinggi. Bukan hanya apatis dan tidak peduli akan semuanya.
Pun, tak semudah membalikkan telapak tangan. Generasi muda bangsa ini perlu disadarakan tentang potensi diri mereka. Melalui serangkaian pengembangan kesadaran pengabdian pada masyarakat. Melalui organisasi internal lembaga pendidikan setingkat OSIS, BEM. Melalui kegiatan kepemudaan karang taruna, Pramuka, Palang Merah Remaja dan sebagainya. Generasi ini perlu disadarkan kembali tentang nilai dedikasi dan nasionalisme. Dikembalikan pada ideologi bangsa sebagai sebuah falsafah dan nilai luhur yang ingin dicapai bersama menuju kesejahteraan. Menuju generasi Indonesia dengan sumber daya manusia yang mumpuni, mampu mengelola sumber daya alam Indonesia secara mandiri. Mencetak generasi kritis yang menguasai teknologi dengan semangat nasionalisme. Menuju peradaban baru Indonesia.
Secara konkret bangsa ini perlu berbenah. Sedikit demi sedikit menghilangkan egoisme individual. Mengembangkan kesadaran nasional secara simultan. Mendongkrak semangat generasi muda penerus bangsa terus berprestasi untuk negeri. Mengikis perbedaan etnis, menjalin kerukunan, dan mulai menyandang integrasi sebagaimana para pemuda Indonesia telah bersumpah. Penggiatan kegiatan pengembangan kecakapan hidup dan jiwa kepemimpinan bagi generasi muda. Bertindak aktif dalam menjaga norma dan nilai luhur bangsa dalam disiplin pribadi, sosial, dan nasional. Membangun kepercayaan kepada pemenrintah dan pembangunan yang berkesinambungan.
Bangkitlah pemuda bangsa, bangkitlah generasiku!