Senin, 18 Juni 2012

Ingat, Itu Adalah Hati!

"Inna fil jasadi lamudghatan, iza soluhat soluhal jasaadu kulluh, iza fasadat fasadal jasadu kulluh, Alaa wahiya Qalbu" (H.R. Bukhori No. 52 dan Muslim No. 1599)

Diceritakan, suatu ketika seorang santri berkunjung pada syekh mursyidnya. Ia mengadukan segala permasalahan hidupnya yang begitu pelik seakan dirinya adalah manusia paling malang sedunia. Dengan penuh hikmah dan kebijaksanaan, syekh tersebut mengajaknya ke tepi danau di belakang bukit. Sang syekh mengeluarkan sebuah gelas piala dan mengambil air danau dengannya. Diberikannya 2 bungkus garam dan gelas tersebut kepada sang pemuda. Satu bungkus garam untuk ditaburkan ke air dalam gelas, satu bungkus untuk ditaburkan ke dalam danau. Sang syekh meminta pemuda tersebut meminta air garam dalam gelas.
"Coba kau minum air dalam gelas itu nak, coba terangkan seperti apa rasanya!" Sang Syekh berkata.
"Pahit syekh". Jawab sang pemuda sambil menyemburkan air asin dalam mulutnya.
"Sekarang coba kau ambil air di danau itu dengan gelas yang tadi. Kau tumpahkan dulu isinya nak! Bagaimana rasanya?" Timpal sang Syekh.
"Mmm... Sssegar... Syekh." Jawab sang pemuda.
"Tahukah kau apa artinya nak?" Tanya sang Syekh bijak.
"Tidak. eh, belum Syekh." Sang pemuda menjawab.
"Begini nak, kadar beban-masalah yang dilimpahkan Allah kepada hambanya sebenarnya hanyalah sebungkus garam tadi, dan yang menjadikan beban-masalah tadi terasa pahit atau segar menyenangkan hanyalah keluasan hati kita. Kalu hati ini sempit laksana gelas hanyalah pahit yang kita rasa. Namun, jika hati seluas danau, maka kesegaran yang akan kita rasakan. Ingat, hati-hatilah dengan hati." Jelas sang Syekh.

Mungkin sangat sering ketika kaki hendak melangkah pergi, terdengar suara lebut mengingatkan "Hati-hati!" Eh, apa pasal kaki yang bergerak tapi hati yang dipanggil? Kenapa bukan mata mungkin, agar senantiasa terjaga memilih jalan untuk dilalui. Atau mungkin kepala, yang paling kita jaga. Kenapa Hati? Ada apa dengan Hati? Dengan logika biasa tentu akan repot menjelaskannya. Namun, ketika kita mau mengaitkannya dengan apa yang disampaikan baginda Rasulullah saw berabad-abad silam, rasio akal akan tersambung dengan sangat sederhana. "Sesungguhnya di dalam jasad terdapat segumpal darah. Apabila baik, maka baiklah seluruh jasad, dan apabila rusak, maka rusaklah seluruh jasad. Ingat, itu adalah hati." Sabda Rasulullah saw yang diriwayatkan oleh Bukhori dan Muslim.

3 komentar:

  1. hati adlh hati yg hrus qt jaga dg hati-hati.krna hati adlh inti dri hdp ini.krna ht qt bsa mgenal Ilahi.

    BalasHapus
  2. lalu bagaimana dengan kaitannya antara darah yang terdapat dalam diri kita ini dengan asupan atau makanan yang masuk ke dalam tubuh.. katanya makanan juga mempengaruhi seperti apa kita dalam hidup.. jika memakan makanan yang baik, maka kita akan baik pula demikian juga sebaliknya.. bagaimana kaitan makanan dengan hati.. ?!??!

    mohon bimbingannya.. kabari saya jika sudah ada reply nya .. terimakasih ;)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Maaf terlampau lama Blog kecil teranggurkan, tidak tersentuh barang sedikitpun...
      Hal ini Benar...
      Asupan makanan mengambil peran dalam pebentukan kepribadian (caracter), sebab itu Allah begitu perhatian akan hal ini.. Allah mensyari'atkan manusia untu selektif terhadap makanan.. tidak hanya Halal, namun juga Thayyiban.. berkaitan dengan konsep hati.. pembentukan terhadap kepribadian lebih condong pada Habbits.. Allahu A'lam..

      Hapus